3 KOMIK DENGAN SAMPUL PALING KONTROVERSIAL YANG PERNAH DITERBITKAN


Sejak popularitasnya menanjak di tahun 30-an, buku komik teah menjadi sejarah penting yang pernah tercatat, menjadi bagian dari identitas manusia tentang bagaimana perilaku, sikap, dan ide berevolusi. Di sisi lain, komik juga bisa menjadi ukuran untuk sebuah masyarakat di dalam kurun waktu tertentu.
Dengan kombinasi kata dan gambar, komik menceritakan sebuah kisah dengan cara berbeda tidak seperti medium lainnya. Di mulai dari yang paling sederhana seperti bagian sampul, namun bagian ini yang di beberapa kesempatan malah menjadi bagian paling mahal untuk diperjual-belikan.

Untuk kali ini, kita akan lebih berfokus pada komik dengan sampul yang memberikan dampak besar sejak komik ini masuk ke pasaran. Bukan dampak biasa, namun pengaruh yang besar karena komik ini mengandung kontroversi dan seperti yang kita ketahui meski selalu berkata benci, manusia sebetulnya sangat menyukai hal yang berbau kontroversi.

Seperti halnya situs judi bola mahaku yang selalu dicintai walaupun dengan beberapa kontroversi. Beberapa sampul yang memiliki kontroversi seperti ini mulai terlupakan dan hilang bak ditelan bumi, namun sebagian lainnya mampu secara total mengubah wajah industri komik dunia.

X-Statix #15


Peter Miligan dan Michael Allred membuat komik ini pertama kali dengan nama X-Force yang kemudian diubahnya menjadi X-Static. Mereka mencoba hal baru dengan membunuh hampir semua anggota tim fiksionalnya dan menggantinya dengan wajah yang lebih dikenal di dunia nyata.

Sayangnya pemilihan selebriti yang dipilih oleh Miligan dan Allred kurang dipikirkan dengan matang. Mereka memilih mendiang Putri Diana, mantan pewaris mahkota Inggris sebagai pahlawan super di komiknya tersebut. Tentu maksud Miligan dan Allred baik untuk menjadikan Princess Diana sebagai superhero namun menggunakan judul "Di Another Day" nampaknya hanya membuat penggemar sang putri mengernyitkan dahi.

Dengan respon masyarakat dunia yang seperti itu, ditambah banyak pihak yang mengatakan komik ini kurang bagus, Marvel menarik kembali penjualan komik ini bahkan dari sebelum diterbitkan.

The Divided States of Hysteria #4


Sampul pada komik ini tidak hanya terlalu provokatif namun juga dianggap menyerang beberapa pihak sehingga komik harus segera ditarik sebelum bisa beredar.

Sampul komik ini menggambarkan sesosok manusia yang dipercaya berasal dari Pakistan, dikebiri dan digantung, dengan hinaan yang bersifat rasial di dadanya. Sepertinya sampul ini mencoba untuk membuat sebuah pernyataan, namun tidak seorang pun tahu pasti apa maksudnya.

Menurut direktur humas dan marketing dari Image Comics, perusahaan yang menerbitkan komik ini, mengatakan. "Segala kebencian yang mengarah pada kriminalitas adalah sebuah perbuatan yang keji, tidak manusiawi, menjijikan, dan sampul ini menantang pembaca untuk melihat bagaimana keadaan yang terjadi di masyarakat sekarang ini."

Meski begitu, banyak dari pembaca yang berpikir bahwa sampul ini terlalu kasar, memicu perpecahan, dan telah menghina pihak-pihak tertentu.

Ditulis dan digambar oleh Howard Chaykin, The Divided States of Hysteria telah terbukti kontroversial dari sejak awal diterbitkan. Isu pertama yang digunakan sebagai pembuka adalah komil dengan sampul bergambar wanita menggunakan burqa motif bendera Amerika dan seorang pelacur transeksual yang dipukuli secara brutal pada panel komiknya.

Captain America #1


Apa yang lebih kontroversi dibandingkan dengan komik yang menampilkan Kapten Amerika yang meninju Hitler tepat di wajah, sementara Hitler yang asli masih hidup? Ya, kala itu baru setahun setelah Amerika Serikat ikut di barisan depan dalam Perang Dunia II.

Ketika itu Hitler masih menjadi pemimpin yang ditakuti se-Eropa bahkan dunia, dan dengan beraninya, Timely Comics (yang kemudian akan berganti nama menjadi Marvel) menggunakan sang Fuhrer di sampul komik Captain America #1.


Dengan isu ramai yang berkecamuk di masa itu, Joe Simon dan Jack Kirby menggunakan sampul ini untuk mengekspresikan perasaan mereka terhadap perang, bukan sebagai propaganda, namun lebih ke arah bentuk protes politik mereka sendiri.

You Might Also Like

0 comments